Pemuda yang tak percaya adanya ALLAH

Ada seorang pemuda yang sangat pintar. saking pintarnya, dia malah tidak percaya pada Allah, ingkar pada agama.

Suatu hari,dia menantang seorang bapak2 yang biasa2 saja dari segi pendidikan, tapi hatinya bersinar, benderang dihiasi dengan cahaya IMAN.

Si pemuda: Pak, kenapa bapak bisa percaya pada ALLAH ? bukan kah ia tak pernah terlihat???tak pernah nampak. Nah, itu artinya allah itu tidak ADA. terus, mengapa pula dalam islam, katanya syeta...n akan di masukkan kedalam api neraka di hari kiamat kelak. bukankah syetan itu terbuat dr api?? berarti syetan ga akan kesakitan jika kelak mereka dicampakkan kedalam neraka.
Dan mengapa dalam Islam, ada istilah percaya pada Taqdir. seperti apakah bukti Taqdir itu ada.?

Denga serta merta, si bapak itu pun menampar si pemuda..

Si pemuda marah bukan main karena merasa kesakitan.
"mengapa pula bapak menampar saya?? bukankah yang saya tanyakan itu wajar?"kata sipemuda dengan nada tinggi.

Lalu sang bapak menjawab : apakah engkau merasa sakit, Nak??

"iya, tentu saja"sahutnya ketus.

Seperti apa RUPA rasa sakit itu??
Bukankah ia tak bisa dilihat?
Lalu mengapa engkau bisa tau ada RASA Sakit.
Begitulah keberadaan Allah, ia memang tak bisa dilihat, tetapi kita bisa merasakan ada ALLAH yg mengatur alam sekitar.
Siapa yang membuat usus kita bisa bekerja, jantung bisa berdetak, mata bisa berkedip?..
Pasti ada keberadaan ALLAH dibalik semua itu.

Tadi saya menamparmu pakai tangan bukan? tangan saya tersusun dari kulit dan otot, sama dengan pipimu, namun bisa menimbulkan rasa sakit yang luar biasa bukan?? itulah jawaban saya, mengapa syetan tetap merasa kesakitan jika ia dicampakkan kedalam neraka, padahal syetan itu terbuat dari api.

Dan apakah kamu menebak bahwa saya akan menamparmu??

"Tidak" sahut pemuda.

Itulah pertanda ada Taqdir. ia datang tak disangka, dan tak di duga.
allah maha penentu, sang pembuat skenario di alam ini.
Berimanlah pada Allah,
karena Dia lah yg Maha Memiliki Kita, alam dan seluruh isinya....

0 komentar:



Posting Komentar